Benarkah Krisis Multidimensi?

  • 0
Dunia berduka, ketika lebih dari seratus masa pro presiden Mursi gugur di tangan para tentara negerinya sendiri. Peristiwa yang terjadi belum lama itu mengingatkan kita kembali bahwa saat ini Mesir sedang mengalami krisis multidimensi setelah jatuhnya presiden Mursi di tangan militer. Menengok ke utara mesir, ada suriah yang juga sedang mengalami krisis multidimensi, di mana rezim pemerintahan Bashar Al Assad terus membantai penduduknya sendiri hanya demi kekuasaan, ada yang bilang itu adalah pertempuran antara Syiah (Rezim Bashar Al Assad) dengan Sunni (Oposisi). Ada juga yang bilang di sana adalah pertempuran antara kepentingan Barat (USA, Eropa) yang membela oposisi dengan Timur (Rusia, China, Iran) yang membela pemerintahan Bashar Al Assad. Lalu jauh di timur, ada etnis Rohingya yang kehilangan tempat tinggal akibat pengusiran dan pembantaian yang dilakukan oleh kelompok budha yang dipimpin oleh biksu radikal Ashin Wirathu. Banyak pendapat mengenai penyebab pengusiran itu, mulai dari motif ekonomi, budaya maupun agama. Di negeri kita sendiri Indonesia, banyak permasalahan-permasalahan maupun konflik-konflik yang terjadi karena beragam faktor.
 
Semua hal di atas adalah peristiwa yang terjadi saat ini di dunia ini. Semuanya seakan mengeroyok akal pikiran kita, membuat kita pusing untuk menentukan mana pihak yang benar dan mana pihak yang salah, dan harus bagaimana menyelesaikannya. Atau bahkan malah menyebabkan kita berpikir bahwa semuanya terlalu rumit untuk diselesaikan dan lebih baik kita bersikap "wait and see" saja, bisikan-bisikan setan pun masuk ke pikiran kita, "sudah tidak usah ikut campur urusan Negara orang, urus saja Negaramu" , bisikan-bisikan semacam itu biasanya menyerang kita yang sedang bingung melihat keadaan saat ini, jika kita memiliki pemikiran seperti itu sebenarnya sah-sah saja apalagi dalam bingkai nasionalisme di mana di sana ada sekat-sekat Negara. Namun kita hidup tentunya memiliki ideologi atau keyakinan yang kita tempatkan di atas nasionalisme yaitu agama, dan dalam agama kita diperintahkan untuk peduli kepada sesama muslim.
 
“Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh,
Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur “ (H.R Bukhari)
 
Kembali lagi ke permaslahan konflik yang terjadi di berbagai negara-negara yang tadi disebutkan. Benarkah yang terjadi pada Negara-Negara tersebut adalah krisis multidimensi seperti yang banyak diberitakan media masa?
 
Krisis multidimensi seperti kita tahu adalah suatu keadaan di mana Negara mengalami permasalahan dalam banyak sektor seperti politik, ekonomi, sosial dan lain-lainnya. Krisis yang terjadi pada semua sektor tersebut terjadi bersamaan sehingga disebut krisis multidimensi.
 
Jika kita melihat ke Negara-Negara tersebut sekilas memang benar yang terjadi adalah krisis multidimensi, namun jika kita perhatikan lebih dalam setiap krisis yang terjadi di banyak Negara tersebut bukan krisis yang terjadi karena faktor ekonomi, faktor sosial atau faktor politik. Krisis-krisis tersebut terjadi murni karena alasan akidah. Musuh-musuh kaum mukmin sengaja mengibarkan bendera-bendera di luar akidah sebagai kedok. Bisa berupa bendera politik, ekonomi atau etnis. Tujuannya jelas, untuk mengelabui kaum mukmin akan motif perseturuan yang sebenarnya, dan untuk memadamkan gelora akidah dalam jiwa mereka.
 
Yang perlu kita tahu, ini bukanlah perseturuan politik, tidak pula ekonomi ataupun budaya. Seandainya hal-hal ini yang menjadi penyebab perseturuan tentu sangat mudah sekali untuk mengatasinya. Rasulullah pun pernah ditawari berbagai kekuasaan dan kesenangan dunia hanya agar ia meninggalkan satu hal, akidah. Jika Rasul menerima tawaran tersebut tentu tidak akan ada konflik sama sekali. Konflik antara kaum mukmin dan kaum musyrik merupakan perseturuan akidah. Dalam Al Quran dikatakan
 
Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji (Q.S Al Buruj: 8)
Demikianlah Al Quran menerangkan kepada kita, semoga kita bisa menjadi manusia yang dapat membedakan mana yang Haq dan mana yang Batil. Sungguh benarlah Allah yang maha tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar